PENTINGNYA MEMBANGUN KARAKTER PADA GENERASI MUDA

Oleh : Lusita Meilana

Karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Karakter positif sangat penting dimiliki oleh generasi muda indonesia. Mengapa?, Menurut Dr. Ratna Megawati dalam acara PENDIDIKAN KARAKTER MAHASISWA yang diselenggarakan oleh Subdit Kesejahteraan Mahasiswa IPB Sunday, 15 April 2012 @ Gedung Graha Widya Wisuda (GWW), IPB. Negara dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, kondisi geografis yang sangat luas, dan jumlah penduduk, bukanlah merupakan faktor utama dalam kemajuan suatu bangsa. Hal tersebut tidak menjamin bahwa negara yang memiliki ke-3 faktor tersebut maju, namun yang menjadi faktor utama yaitu state of mind. Sebagai contoh dapat dilihat luas negara singapore yang hanya 710 kilometer persegi  namun Economist Intelligence Unit dalam “Indeks Kualitas Hidup” menempatkan Singapura pada peringkat satu kualitas hidup terbaik di Asia dan kesebelas di dunia. Begitu juga dengan cina, negara kecil namun bisa menjadi negara maju. Salah satu hal yang menarik bagi beliau ketika beliau visit, dicina terdapat sebuah lapangan besar dengan berbagai aktivitas tanpa adanya tempat sampah, namun kondisinya sangat bersih tanpa adanya sampah sedikitpun. Hal ini menggambarkan karakter yang ada pada setiap individu sangat menentukan.

Karakter dan kemajuan bangsa, hal ini sangat erat hubungannya. Beberapa pengertian mengenai karakter oleh beberapa tokoh diantaranya menurut Hiraclitus (500BC) karakter merupakan nasib yang menentukan nasib seluruh bangsa.  Menurut Cicero (106BC) karakter tumbuh didalam diri seseorang warga negara yang berkarakter terletak kejayaan sebuah negara. Sedangkan menurut Francis Fukuyama karakter merupakan sosial kapital (hight trust society). Karakter berkaitan dengan kecerdasan emosi, kecerdasan ini dicirikan dengan orang yang mampu membaca emosi orang lain sehingga mempunyai rasa empati yang tinggi serta mampu mengontrol emosi negatif  menjadi emosi positif. (character is power (Booker. T washington)).

Tantangan abad ke-21 dengan adanya kondisi serba berbentuk tekhnologi modern. Karakter semakin dibutuhkan, dengan orang-orang yang mempunyai otak lebih berkembang. Adanya  perkembangan teknologi ini memerlukan dua per tiga generasi dengan karakter yang positif karena kehidupan semakin banyak tantangan. Karakter yang harus dimiliki pada abad tersebut diantaranya kreatif, enterpreneur, cekatan mencari solusi, cepat mengambil keputusan, pembelajaran sejati , selalu ingin tahu, berfikir kritis, berfikir divergent, berfikir holistik dan karakter positif lainnya. Abad ini juga memerlukan orang-orang yang yang creative, industries, creative economy, creative capitalism. Tiga komponen kraetivitas diantranya creativity knowlage (expertise), creative thinking and motivation.

Melihat karakter yang ada dan kembali kepermasalahan SDM indonesia saat ini diantaranya lower order thinking skill. Hal ini bisa kita bandingkan dengan negara Asia Timur dan Asia Teggara, yaitu cara berfikir paling tinggi (advanced) dan mampu mengelola informasi, membuat generalisasi, menyelesaikan masalah non rutin dan menggambarkan kesimpulan data. Berbeda halnya dengan indonesia hampir 80% dikatakan lower class levels, berdasarkan data Dr.Anies Baswedan. Selain hal tersebut, adanya permasalahan yang ada pada sistem pendidikan indonesia yaitu orientasi menghafal yang akan berdampak pada penghambatan kreativitas. Dapat dilihat dalam bloom’s taxonomy six mayor class dari yang lower class levels hingga higher class level diantaranya remember, understand, apply, analyze, evaluate dan create. dan indonesia menempati pada posisi remember, dapat dilihat ketika ujian kita slalu mendapatkan soal-soal yang sama dengan buku atau slide dan itu berarti untuk menjawab soal tersebut kita harus menghafal sama persis dengan materi yang ada baru kita akan mendapatkan nilai yang sempurna. Berbeda halnya jika kita mendapat soal dengan tipe menganalisis, kita bisa lebih berkembang karena kita paham dan mengerti sehingga lebih mendukung kekreatifan. Masalah selanjutnya yaitu dalam abad 21 dibutuhkan interpreunership minimal 2% dari jumlah populasi, indonesia baru mencapai 0,18% dan semakin tinggi pendidikan yang diemban banyak yang semakin takut mengambil resiko. Berlanjut pada masalah kualitas moral dan integritas. Indonesia pelanggar HKI tertinggi di Asia (PERC,2010), dikatakan indonesia suka mencontek, menjiplak, menyuap dan plagiarism.

Beberapa karakter yang timbul akibat bad parenting dan bad schooling akan memunculkan perilaku dalam kehidupan sehari-hari diantaranya arrogant (sombong), defensive (merasa paling benar), dishonest (tidak jujur / liars), manipulative, domination, risk average, agresive. Faktanya antara harapan dan kenyataan, parenting (pengasuh dirumah) dan sistem sekolah sangat berperan penting dalam pembentukan karakter. Jadi sangat membutuhkan perubahan pola pendidikan yang lebih berkarakter awareness dan holistik. Arus utama pendidikan modern (non holistik) diataranya menghafal, drilling, rote laerning, standardisasi test, cognitive oriented, one way teaching, anak sebagai bejana kosong, out of fear and failure, no spirit, dan contrelled learning environment. Karakter ini berkaitan dengan emosi, emosi ada yang negatif dan positif. Karakter negatif merupakan gambaran emosi negatif yang membanjiri diri. hal ini merupakan kualitas karakter yang lower. menggambarkan pemikiran yang negatif dan pesimis. dan perlu diketahui kerja otak ketika negatif. tubuh akan mengeluarkan racun cortisol dan adrenalin, mengaktifkan batang otak, racun bagi otak (membunuh sel-sel otak memori). akan berdampak pada perkembangan diri untuk tumbuh selalu dengan pesimis, tidak adanya kecintaan berbuat kebaikan, semangat, motivasi, percaya diri dan matinya ke creativan hidup. Sedangkan pada karakter positif akan menimbulkan emosi positif dengan kerja otak memberikan tonik tonik endorphins, serotonin, dan dapomine yang berguna untuk memperkaya heortex dan yang akan muncul yaitu kecintaan berbuat kebaikan motivasi, percaya diri, holistik education akan membawa kemajuan.

Bagaimana membangun karakter yang sudah terlanjur?. yang harus dilakukan adalah mengenal tanda-tanda virus emosi negatif, kemudian mengubahnya dan mengontrolnya untuk menjadi emosi positif. Selalu timbulkan rasa cinta dan kasih sayang, bersyukur, gembira, memaafkan, empati, simpati dan peduli.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s