MASALAH FLU KAMBING DI DESA PT

Oleh : Lusita Meilana

        Tulisan ini saya tujukan kepada rekan-rekan khususnya yang sedang belajar atau yang mempunyai title  DOKTER HEWAN/ veterinary. Saya dikagetkan dengan kondisi kambing para peternak disebuah desa terpencil yang ada di Lampung Timur, tepatnya di Desa Pematang Tahalo. Tiba-tiba terjangkit sebuah penyakit yang saya pikir seperti flu burung pada ayam. Awalnya hanya satu kambing saja yang sakit namun time by time disusul dengan sakitnya kambing lainnya. Penyakit ini dicirikan dengan kondisi kambing yang diam, tidak makan sama sekali, perut kembung, bulu berdiri (dalam bahasa jawa mengkorok) tidak mengeluarkan feses dan urin, mulut mengeluarkan liur, dan meringkik kesakitan, selalu mencari tempat untuk menyandarkan kepalanya, nafas yang tidak beraturan, mungkin masih banyak ciri-ciri lainnya jika diteliti lebih dalam. Karena saya hanya melihat ciri-ciri yang nampak dari luarnya saja. Berbagai upaya dilakukan oleh para peternak dengan cara tradisional yang dilakukan secara turun temurun oleh para peternak dahulu bisa dikatakan nenek moyang dahulu yang melakukan pengobatan segala penyakit baik itu untuk manusia maupun untuk hewan seperti memijat kambing pada bagian tertentu, mengkerik dengan minyak tanah namun bukan dengan koin yang biasa digunakan melainkan dengan daun singkong (bisa dibayangkan?????), memberi minum air kelapa, mengiris telinga kambing agar kambing mengalirkan darah dan bergerak aktive kembali, memasukkan blombong (ranting pohon pepaya) kedalam anus kambing dengan maksud agar kambing mengeluarkan angin dari perutnya (karena perut kambing kembung), di sapu dengan sapu ijuk pada bagian perut kambing dengan maksut yang sama seperti memasukkan blombong kedalam anus kambing. Biasanya hal tersebut berhasil dilakukan, namun pada waktu itu semua cara tradisional tersebut telah sia-sia dilakukan. Kambing tersebut semakin lemah dan terus mengeluarkan air liur. Hal tersebut yang membuat saya miris dan muncul keinginan yang sangat besar untuk mengubah impian saya menjadi dokter hewan, namun saya yakin hal ini tidaklah mungkin karena saya sudah semester 4 dengan jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan. Sebagai mahasiswa pertanian i felt useless because i do nothing without just give suggestion for them.

kambing sakit

Ane sakiiittt!!!!

          Saya membayangkan bagaimana kondisi para peternak kambing yang hanya menggantungkan hidupnya pada hasil daging atau penjualan kambingnya sedangkan kondisi kambing sakit yang hanya bertahan hingga 5 hari saja, mau tidak mau peternak harus menjual seluruh kambing sebelum seluruh ternakannya terjangkit atau tertular penyakit tersebut. Terpaksa dengan banyak kerugian yang mereka dapatkan. Karena para pembeli kambing (dalam bahasa jawa blantik) pandai menurunkan harga dengan alasan kambing sakit atau karena kondisi peternak yang terdesak harus segera menjual kambing sebelum kambingnya mati semua. Jika kambing mati semua peternak tidak akan mendapatkan uang sedikitpun malah akan mengalami kerugian yang lebih besar. Biasanya jika kambing sakit, misal hanya masuk angin, daging kambing dijual dan peternak masih mendapatkan untuk dari hasil penjualan daging tersebut. Namun dalam hal ini memiliki kasus yang berbeda kambing kemungkinan besar memiliki penyakit yang  mungkin menular ke manusia. Malah akan semakin merugikan bagi manusia, oleh karena itu kambing yang terjangkit penyakit tersebut tidak di manfaatkan atau dikonsumsi.

kondisi petani yang panik

kondisi petani yang panik. wedos ku !!!!!

          Permasalahan yang lain yaitu tidak adanya dokter hewan yang selalu siaga didesa tersebut. Padahal banyak sekali penduduk yang mata pencahariannya sebagai peternak kambing, sapi, ayam, mentok, bebek, angsa dll. Hal ini dikarenakan masyarakat didaerah tersebut masih cukup primitif dengan ilmu pengetahuan yang modern. Jarang sekali orang tua yang menyekolahkan anaknya sampai keperguruan tinggi. Biasanya orang tua hanya mau menyekolahkan anaknya hingga Sekolah Menengah Atas saja. Bukan karena kondisi perekonomian yang buruk, tapi mindset mereka yaitu uang, lebih baik bekerja menghasilkan uang dari pada melanjutkan kuliah, kuliah hanya membuang uang karena goal setting yang akan dicapai nanti setelah lulus kuliah yaitu hanya mendapatkan sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang. Lebih baik uang untuk kuliah digunakan sebagai modal usaha yang nantinya akan menghasilkan banyak uang. Itu lah yang ada difikiran mereka sampai saat ini. Didaerah tersebut jika saya hitung hanya ada 5 keluarga yang mau menyekolahkan anaknya kejenjang yang lebih tinggi. Sedangkan yang lain hanya sampai SMP atau SMA kemudian menikah dan menjadi peternak, petani atau pedagang. Rumah yang dimiliki mereka tidaklah sederhana namun bisa dikatakan mewah karena yang ada difikiran mereka adalah bekerja untuk menghasilkan uang dan hidup nyaman, pendidikan tidaklah penting.

          Kondisi desa tersebut hanya ada tempat pendidikan sampai SMP saja. Daerah tersebut sebenarnya tidaklah jauh dari kota. Namun karena akses jalan yang akan dilalui menuju kota sangat lah devective untuk dilewati. Jadi, memerlukan energi yang cukup dan keahlian berkendara untuk sampai ke kota. Tentunya, juga dibutuhkan waktu yang relatif lama. Akomodasi yang tidak memadai didaerah tersebut menyebabkan kesulitan untuk mendapatkan makan-makannan modern, seperi makanan-makanan market, dalam artian makanan masih dikatakan dari alam. Ulat daun pisang adalah makanan yang bisa saja dijadikan lauk bagi masyarakat. Tawon, bekicot, rumput, jangkrik, jamur, laron, nangka, bunga pisang, talas, bunga kenari, pepaya dll masih kerap dimanfaatkan sebagai lauk pauk masyarakat tersebut.

          Oleh karena adanya kondisi tersebut diperlukan adanya perhatian dari berbagai stakeholder yang mampu membantu masalah yang ada didesa tersebut, tentunya dengan kesadaran dari berbagai pihak, khusunya para dokter hewan yang merasa memiliki kewajiban akan hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s